Oleh: dennyfs | 1 Mei, 2008

Dusta Da Vinci Code

Oleh: Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm

Buku The Da Vinci Code ternyata telah tersebar luas pula di Indonesia dan menimbulkan

banyak pertanyaan diantara umat dan bahkan membingungkan. Karangan ini berusaha

memberikan pernilaian kritis terhadap buku tersebut.

Karangan ini juga kami terbitkan dalam bentuk sebuah buku kecil yang berjudul:

Kebohongan Da Vinci Code dengan isi yang lebih mendetail sedikit.

1. Pertanyaan dan isi buku The Da Vinci Code.

Pada musim semi 2003 penerbit Doubleday mengeluarkan sebuah buku berbentuk novel

yang berjudul: The Da Vinci Code, karangan Dan Brown. Didukung oleh suatu pengiklanan

yang hebat, dalam waktu satu tahun lebih sedikit, buku itu telah menjadi bestseller yang

hebat dan telah terjual hampir 6 juta eksemplar. Mengapa? Buku itu mengandung

unsur-unsur yang menarik bagi banyak pembaca: ketegangan, rahasia, teka-teki, roman

dan suatu sugesti bahwa dunia ini tidak seperti yang tampak sekarang ini dan bahwa

dibalik sana ada kebenaran yang berusaha ditutup-tutupi oleh kekuasaan Gereja yang ada

sekarang ini. Banyak orang Katolik juga ikut digoyahkan imannya karena membaca buku

tersebut, yang sepintas lalu memberi kesan ilmiah, tetapi yang sesungguhnya berisi kebohongan belaka.

Novel itu dimulai ketika Robert Langdon, seorang profesor dari Harvard, Inggris, ahli

symbologi religius (religious symbologi, bidang ini dalam kenyataannya tidak ada) yang

sedang berkunjung ke Paris, dipanggil untuk menyaksikan suatu kejahatan yang terjadi

di museum Louvre, Paris. Jacques Sauniere, yang dikenal sebagai seorang ahli tentang

dewi-dewi dan “feminitas sakral”, tergeletak mati terbunuh disalah satu bagian museum itu.

Sebelum meninggal Sauniere masih sempat menuliskan petunjuk-petunjuk tentang rahasia

bilangan, anagram dan pentagram, yang dilukiskan pada tubuhnya sendiri dengan arahnya.

Pada waktu itu pula Sophie Neveu, seorang “criptologist” yang juga merupakan cucu Sauniere,

didatangkan ketempat kejadian. Sophie berhasil menafsirkan tanda-tanda yang ditinggalkan

oleh kakeknya kemudianberbincang-bincang dengan Langdon tentang pemujaan

dewi-dewi, serta menemukan sebuah “kunci penting” yang ditinggalkannya.

Selanjutnya novel itu membawa pembaca kepelbagai tempat di Eropa bersama dengan

Langdon dan Sophie untuk mencari jawaban yang sesungguhnya hanya sederhana saja:

Sauniere adalah Grand Master dari suatu kelompok rahasia yang disebut “Priory of Sion”

(Persekutuan Sion) yang dibaktikan untuk membela kebenaran tentang Yesus, Maria

Magdalena, dan karenanya seluruh umat manusia. (Tentu saja kebenaran menurut Brown,

kebenaran yang tidak benar, sebab mengandung banyak dusta).

Dalam buku itu diceritakan bahwa pada mulanya umat manusia, selama beberapa milenia,

menghayati suatu spiritualitas yang memiliki keseimbangan antara yang maskulin dan feminin,

yaitu orang menghormati para dewi dan kuasa wanita. Inilah yang menjadi pesan Yesus.

Untuk itu Ia mengambil Maria Magdalena sebagai istri serta mempercayakan kepadanya

kepemimpinan gerakannya itu, demikian Brown menulis. Maria Magdalena sedang

mengandung anak mereka ketika Yesus disalibkan. Menurut Brown Yesus bukan Allah,

tetapi manusia biasa saja.

Dipihak lain ada Petrus, karena iri hati terhadap peranan Maria Magdalena, mengumpulkan

kelompok lain yang berada disekitar Yesus dengan tujuan untuk menghambat dan

mengganti ajaran Yesus yang sejati dengan ajarannya sendiri, memalsukan Injil Yesus,

sehingga Injil seperti yang kita kenal itu adalah rekaan Petrus dan kelompoknya,

mendongkel Maria Magdalena dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin kelompok

itu, tentu saja menurut versi Brown.

2. Penilaian kritis terhadap Da Vinci Code.

Walaupun Da Vinci Code tampaknya ilmiah, namun kenyataannya suka “ngawur” dan

mengandung banyak kebohongan. Apa yang dilakukan Brown dalam buku itu ialah

menggabungkan beberapa aliran pemikiran, dongeng-dongeng esoterik, serta sejarah

gadungan yang dipublikasikan oleh buku-buku lain. Brown memberikan beberapa

bibliografi dalam websidenya dan mengutip beberapa judul dalam novel itu sendiri. Akan

tetapi semua sumber itu bukan sumber yang “bonafide”. Sumber- sumbernya dapat

digolongkan dalam 3 klompok.

2.1. Darah Kudus, Grail Kudus dan garis keturunan

Buku ini yang ditulis oleh Michael Baignent, Richard Leigh dan Henry Lincoln, diterbitkan

tahun 1981 dan menjadi dasar sebuah siaran televisi Inggris. Disajikan sebagai sebuah

karya non fiksi, karya itu mengandung banyak cemoohan dan dinyatakan sebagai karya

khayalan, dengan asumsi-asumsi tidak berdasar, serta didasarkan pada dokumen-dokumen palsu.

Sebuah buku lain yang sejenis adalah: The Templar Revelation (Wahyu Templar)

karangan Lynn Picknett dan Clive Prince, keduanya paranormal. Mereka juga mengarang:

The Mammoth Book of UFOs (Buku Besar Tentang Ufo). Semua unsur tentang Maria

Magdalena, Holy Grail, Priory Sion, yang terkandung dalam The Da Vinci Code seluruhnya

berasal dari kedua buku tersebut.

2.2. Feminitas sakral

Sejak abad ke-19 ada orang-orang yang berspekulasi tentang suatu abad para dewi yang

telah hilang. Menurut mereka pada masa itu feminitas sakral dipuja, tetapi akhirnya diganti

dengan suatu patriarkat yang cenderung untuk perang. Dalam tahun-tahun terakhir ini

seberapa penulis menggabungkan pemikiran itu dengan tokoh Maria Magdalena, hususnya

seorang penulis Amerika yang bernama Margaret Starbird dengan gigih memperjuangkan

hal itu dalam beberapa bukunya, walaupun tanpa dasar historis sedikitpun. Lukisan Brown

tentang Maria Magdalena sebagian besar bersumber pada karya-karyanya, khususnya

yang berjudul The Woman With The Alabaster Jar (Wanita Dengan Buli-buli Alabaster)

yang oleh Starbird sendiri diakui, bahwa itu hanya suatu cerita fiksi belaka.

2.3. Gnostisisme

Gnostisisme adalah suatu sistim intelektual dan spiritual yang tersebar luas dalam dunia

Eropa waktu itu. Banyak bentuknya, tetapi kebanyakan dari pemikiran gnostik itu bersifat esoteris,

artinya pengetahuan yang sejati hanya terbuka bagi sejumlah kecil orang saja dan mereka

memandang dunia materi ini sebagai sesuatu yang jahat dan negatif, termasuk tubuh

manusia. Gnosis berarti pengetahuan, Gnostisisme dapat dibandingkan dengan semacam

kebatinan yang berbau klenik. Aliran New Age sesungguhnya merupakan suatu bentuk

gnostisisme juga. Ada beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua sampai kelima yang

merupakan perpaduan antara pemikiran gnostik dan kristen, bahkan ada yang berbentuk

seperti Injil, namun bukan Injil dan tidak ada hubungannya dengan sabda dan perbuatan

Yesus. Sumber-sumber tadi, demikian pula orang-orang yang kemudian mendasarkan diri

pada sumber-sumber tadi, sama sekali tidak punya kredibilitas, tetapi justru itulah yang

dipakai oleh Brown. Salah satu pokok pernyataan yang berkali-kali dikemukankan Brown

ialah, bahwa karyanya itu bertujuan menemukan kembali sejarah yang hilang, sebab

sejarah yang sekarang ini, menurut dia, adalah sejarah yang ditulis dan dipalsukan oleh

para pemenang, yaitu kelompok Petrus. Dengan itu Brown, lewat tokoh-tokoh fiktifnya,

sesungguhnya mau menyatakan, bahwa seluruh sejarah kristiani, dimulai dengan sejarah

Yesus sendiri, sesungguhnya bukan lain daripada suatu pemalsuan belaka, yang ditulis

oleh orang-orang yang bertekad mau menghilangkan “pesan asli” Yesus sendiri. Jadi

menurut Brown apa yang tertulis dalam Perjanjian Baru dan yang ditulis oleh orang-orang

kristen abad-abad pertama, sesungguhnya tidaklah benar, tidak seperti yang sesungguhnya terjadi.

Itulah yang menjadi inti permasalahannya dan itu merupakan suatu tuduhan dan fitnahan

yang serius sekali.

Brown mengklaim bahwa Yesus menghendaki, agar gerakan yang mengikuti Dia

merupakan suatu gerakan kesadaran yang lebih besar akan “feminitas sakral”. Brown

mengatakan pula, bahwa gerakan ini, dibawah pimpinan Maria Magdalena, berkembang

sekali dalam tiga abad pertama, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Kaisar Constantinus.

Ini pernyataan Brown yang murahan. Tidak ada bukti sedikitpun tentang kebenaran

pernyataan tersebut. Peristiwa ini tidak pernah ada.

Bila kita menelusuri novel itu (Da Vinci Code), kita akan menjumpai banyak pernyataan

yang aneh-aneh dan tidak benar, misalnya mulai dari geografi Paris sampai pada biografi

Leonardo da Vinci sendiri, semuanya tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau demikian

halnya jelaslah sudah, bahwa klaim-klaim buku itu semuanya tidak berdasar dan

karenanya seluruh buku itu tidak dapat dipercaya, alias kebohongan belaka.

3. Beberapa catatan tentang fakta historis

3.1. Pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena

Dalam buku Brown itu digambarkan seolah-olah Yesus telah menikah dengan Maria

Magdalena. Dalam seluruh sejarah Gereja tidak pernah disebut tentang hal itu dan hal

itu samasekali tidak masuk akal. Sejak semula umat kristen (Gereja Katolik) telah Mengakui, bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Allah dan manusia sekaligus. Untuk memberikan kesaksian itu tidak terbilang jumlah para martir yang merelakan diri untuk

mati dibunuh demi kesaksian itu, bukan dengan kepahitan, tetapi dengan gembira.

Dalam seluruh tradisi kristen tidak pernah sekalipun disebut, bahwa Yesus itu pernah

menikah, sebaliknya selalu diandaikan, bahwa Dia hidup selibat demi Kerajaan Allah.

Jadi pernyataan Brown dan beberapa sumber modern, (semuanya bahwa Yesus menikah

dengan Maria Magdalena adalah kebohongan belaka).

3.2. Maria Magdalena

Maria Magdalena atau juga yang biasa disebut Maria dari Magdala (sebuah kota kecil di

Palestina semasa Yesus) yang menjadi tokoh utama dalam novel Brown, memang

merupakan seorang tokoh yang juga disebut dalam keempat Injil (12 ayat). Siapakah

Maria Magdalena itu sesungguhnya? Dia disebut sebagai Maria dari Magdala untuk

membedakannya dari Maria-Maria lainnya. Dalam keempat Injil dia ditampilkan sebagai

saksi pertama kebangkitan Kristus (Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-11; Luk. 24:1-12; Yoh.

20:1-18). Bahwa keempat Injil menyebutnya sebagai saksi pertama kebangkitan Tuhan

Yesus, itu berarti suatu penghargaan yang besar dari Gereja terhadap Maria Magdalena,

namun Gereja tidak pernah menjadikannya seorang dewi.

Semuanya itu menunjukkan dengan jelas, bahwa Gereja, penyimpan Injil itu, yang

dipimpin oleh Petrus, sangat menghargai Maria Magdalena, sehingga jika benar, bahwa

Petrus telah menyingkirkan dia, pastilah namanya tidak akan disebut-sebut didalamnya,

apalagi dengan penghargaan yang begitu besar.

Menurut tradisi Gereja Timur, setelah Pentakosta, Maria Magdalena menemani Bunda

Maria dan Santo Yohanes Rasul ke Efesus dan akhirnya wafat disana dan dimakamkan

disana pula. Pada pertengahan abad ke-8 peziarah Santo Willibald mengunjungi makamnya.

Menurut tradisi Perancis Maria Magdalena bersama dengan Martha dan Lazarus pergi ke

Provence, Perancis Selatan, dan mewartakan Injil disana.

Menurut tradisi itu pula pada akhir hidupnya dia berada disebuah gua, La Sainte Baume.

Namun dewasa ini ceritera tersebut dipertanyakan dan rupanya semakin jelas, bahwa itu

tidak benar.

Bagaimanapun juga Maria Magdalena ini mendapat penghormatan besar didalam Gereja

sejak semula, baik di Barat maupun di Timur dan dia dipandang sebagai seorang Santa

besar, namun tidak pernah dipuja sebagai seorang dewi. Oleh karena itu jika Brown

mengatakan dia disingkirkan oleh Petrus, hal itu merupakan pernyataan yang tidak

berdasar samasekali alias bohong.

3.3. Leonardo da Vinci

Nama pelukis itu sesungguhnya Leonardo, lahir 1452, anak Piero da Vinci. Vinci adalah

nama sebuah kota yang terletak tidak jauh dari Florence, atau Firenze sekarang ini.

Jadi da Vinci berarti dari Vinci, bukan nama keluarga. Dari sini saja sudah ketahuan,

bahwa Brown sudah “ngawur”. Kemudian lukisan Perjamuan Malam itu sendiri adalah

sebuah lukisan didinding ruang makan sebuah biara di Milano, menggambarkan salah

satu episode yang dilukiskan dalam Injil, yaitu cerita tentang pemberitahuan, bahwa salah

seorang dari mereka akan mengkhianati Yesus (bdk. Yoh. 13:21-24). Oleh karena itu

semua murid menjadi tegang dan saling bicara satu sama lain. Petrus lalu berbisik kepada

Yohanes supaya bertanya siapa orangnya. Oleh karena itu dalam lukisan itu tidak

ditampilkan pialanya, melainkan ketegangan para murid.

3.4. Holy Grail

Asal usul legenda itu tidak jelas, mungkin berasal dari legenda suku Kelt tentang cawan

berisi darah yang memberi hidup. Tulisan pertama yang kita jumpai tentang Holy Grail itu

ialah dalam puisi Chretien de Troyes, yang hidup pada abad ke 12. apa yang dimaksud

dengan Grail itu juga berbeda-beda tafsirannya. Dalam salah satu legenda digambarkan,

bahwa Grail itu merupakan semacam cawan yang indah, yang dihiasi permata, serta

mampu memberikan makanan dan minuman yang tidak terbatas. Itulah alat yang dipakai

Yesus saat makan malam bersama murid-murid-Nya dan juga cawan yang dipakai oleh

Yesus untuk minum pada kesempatan itu. Juga merupakan bejana yang dipakai Josef dari

Arimatea menampung darah Yesus yang menetes dari atas salib. Dalam legenda itu Grail

tadi dijaga oleh seorang wanita dan eksistensi Grail itulah yang menjadi alasan dari sekian

banyak petualangan untuk mencarinya. Grail itu merupakan campuran antara dongeng rakyat,

roman dan mitologi religius. Walaupun ada beberapa cawan didunia ini yang katanya

adalah cawan yang dipakai Yesus, namun Gereja tidak pernah memasukkan dongeng

tersebut dalam tradisinya.

3.5. Priory of Sion

Pertama-tama harus dikatakan, bahwa Priory of Sion itu sesungguhnya bukan realitas

sejarah seperti yang diandaikan Brown. Dokumen yang disebut oleh Brown itu, lengkap

dengan daftar para grand-masternya, termasuk Victor Hugo dan tentu saja Leonardo

da Vinci, adalah dokumen palsu, yang diselundupkan kedalam Perpustakaan Nasional

Perancis, kemungkinan pada tahun 1950, oleh seorang yang bernama Pierre Plantard,

seorang anti-semit yang berusaha “membersihkan dan memperbaharui” Perancis. Pada

tahun 1950 Plantard mulai mengklaim, bahwa ia adalah ahli waris pada tahta Kerajaan

Perancis dari garis keturunan wangsa Meroving. Ia membentuk sebuah kelompok yang

menamakan diri “Priory of Sion”, menyelundupkan dokumen-dokumen palsu kedalam

perpustakaan-perpustakaan dan parsip-arsip Perancis dan mempropagandakan mitos

tentang garis keturunan rajani Yesus. Pada tahun 1970 salah satu sekutu Plantard

mengakui ikut membantu Plantard membuat dokumen-dokumen palsu itu, termasuk daftar

genealogy yang menggambarkan, bahwa Plantard adalah dari keturunan Meroving dan dari

Yesus sendiri, serta suatu daftar tentang grand-masters Priory of Sion, seolah-olah

umurnya sudah lebih dari sembilan abad. Kemudian ternyata bahwa Plantard itu seorang

penjahat dengan catatan kriminal sebagai penipu dan hubungannya dengan kelompok anti

semitik pasca perang. Penipuan Plantard ini telah dibahas dalam beberapa buku berbahasa

Perancis dan dalam sebuah dokumentasi BBC tahun 1996. Jadi Priory of Sion sebagai

kelompok yang berumur seribu tahun yang didirikan untuk melindungi Holy Grail itu tidak

pernah ada. Kesimpulan yang dikutip Carl E. Olson – Sandra Miesel dalam The Da Vinci

Hoax jelas dan tegas : “Seluruh sejarah Priory of Sion hanyalah kebohongan dan tipu

muslihat yang meyakinkan. Sesungguhnya organisasi ini tidak pernah ada” (hal 244).

3.6. Ksatria Templar

Ksatria Templar itu memang realitas historis. Mereka itu didirikan pada abad ke-11 di

Tanah Suci sesudah Perang Salib dengan tugas pertama-tama untuk melindungi Tanah Suci.

Mereka itu adalah orang-orang yang mengucapkan kaul religius. Mereka berkembang

menjadi kuasa sekali dalam abad ke-13 dab ke-14 serta memiliki banyak kekayaan. Hal

itu menimbulkan kekuatiran dalam diri Raja Filip II dari Perancis dan sekaligus dia juga

mengincar harta kekayaan kelompok tersebut. Oleh karena itu pada tanggal 13 Oktober

1307 Raja Filip memerintahkan, agar semua ksatria Templar di Perancis ditahan dan harta

milik mereka dirampas. Jadi bukan Paus Clemens V yang membubarkannya, seperti

pernyataan Brown. Sebaliknya Paus Clemens marah, karena para ksatria itu berada

dibawah perlindungannya, namun dia tidak berdaya, karena waktu itu dia berada di vignon,

bukan di Roma, dan dia sendiri seolah-olah menjadi tawanan raja Perancis itu.

Pembubaran itu hanya menyangkut wilayah Perancis saja. Karena tekanan-tekanan hebat

yang dilakukan pihak raja terhadap dirinya, Paus menjadi tidak berdaya dan pada tanggal

22 Nopember tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan penindasan terhadap para

ksatria Templar tersebut. Pada tahun 1312 saat Konsili Vienna, dibawah tekanan Raja

Filip yang muncul didepan tembok kota Paul, “terpaksa” membubarkan untuk sementara”

Ordo Templar tersebut dan tidak mau mengatakan, bahwa Ordo itu bersalah. Apa para

ksatria Templar itu ada hubungannya dengan legenda tentang Grail? Hubungan itu baru

ada sejak abad ke 19, ketika minat terhadap kelompok-kelompok rahasia berkembang

dengan pernyataan-pernyataan yang aneh, tanpa dasar historis samasekali.

Kesimpulan Buku Da Vinci Code itu bukan hanya sekedar sebuah novel, melainkan

sangat tendensius, yaitu ingin menyebarkan suatu ajaran sesat tentang kristianisme,

bahkan tentang Yesus sendiri. Pada intinya itu merupakan suatu penyangkalan terhadap

iman kristen sendiri. Para pembaca yang tidak memiliki iman yang teguh atau memiliki

latar belakang tentang sejarah Gereja atau sejarah umum Eropa, akan mudah terkecoh

oleh klaim-klaim buku tersebut yang bergaya ilmiah, tetapi yang sesungguhnya

samasekali tidak punya nilai ilmiah. Dalam kenyataannya buku tersebut paling sedikit

telah membingungkan banyak orang dan menggoyahkan iman cukup banyak orang kristen.

Bagi anda yang mampu membaca bahasa Inggris, sangat saya anjurkan membaca buku:

Amy Welborn, Decoding Da Vinci Code, terbitan Our Sunday Visitor, Huntington, Indiana,

2004 yang memberikan sanggahan cukup mendetail tentang buku Dan Brown tersebut dan

menunjukkan kebohongannya.

Demikian pula saya anjurkan membaca buku: The Da Vinci Hoax. Tipuan Da Vinci.

Mengupas tuntas kebohongan The Da Vinci Code, karangan Carl E.

Olson dan Sandra Miesel, terbitan Dioma, Malang. Kedua buku tersebut memberikan

sanggahan yang meyakinkan dan cukup mendetail terhadap buku Da Vinci Code itu.

Sebaliknya buku Lie Chung Yen: Pengakuan Maria Magdalena, tidak dapat saya anjurkan.

Direnungkan dalam terang iman, memang zaman kita ini adalah zaman kekacauan,

bukan hanya dalam dunia, tetapi si iblis juga berusaha menerobos masuk kedalam jajaran

Gereja. Itulah bagian dari Rahasia Ketiga Fatima yang disampaikan Bunda Maria kepada

Lucia Santos. Dengan pelbagai macam cara, iblis, melalui antek-anteknya berusaha

menyesatkan orang, bahkan mereka yang percaya kepada Yesus, supaya menjadi

bimbang dan goyah imannya. Namun dalam iman kita yakin, bahwa jika kita tetap

berpegang pada iman, kita akan menang dan mengalahkan iblis itu. “Inilah kemenangan

yang mengalahkan dunia,yaitu iman kita.” (1Yoh. 5:4). Namun untuk sementara itu, kita

masih harus tetap berjuang dengan penuh keyakinan akan kemenangan kita, sambil

memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus dan mewartakan kabar gembira

keselamatan dimana-mana, sebab kita tahu, bahwa seperti disabdakan oleh Tuhan

sendiri, Dia akan selalu mnyertai kita sampai akhir zaman:

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa Sampai kepada akhir zaman”

(Mat. 28:20)

In Christo crucifixo


Beri tanggapan

Your response:

Kategori